My First Sujunesia Gathering

Agustus 17, 2009 at 5:07 am (Bacotan) (, , , , , )

Minggu 16 Augustus kemarin, Sujunesia ngadain gathering untuk daerah Bandung dan sekitarnya. Thanks to Nunu yang udah ngusulin! *peluk cium Nunu*

Pagi-pagi, gue udah riweuh banget. Mandi–padahal lagi ga ada air, makan buru-buru, pokoknya repot banget deh :D Nyokap gue sampe curiga, jangan-jangan gue tuh mau nge-date bukannya gath XD Tapi nyokap gue tau dong kalo anaknya ini masih jomblo–so ya nggak laaah. Gue gugup aja gituuu. THAT’S MY FIRST GATH, EVER =DD. Dengan segala macam keriweuhan, akhirnya gue berangkat juga ke BIP bareng nyokap. Ajegile, macet booo! Bandung makin nyebelin sekarang, udah kae Jakarta aja DX

Akhirnya, gue en nyokap nyampe juga di BIP setelah ngiter-ngiter gaje nyari parkiran. Tukang parkirnya ngerepotin ah! *ditendang tukang parkirnya* Haha.. karena masih jam 9an, jadilah gue en nyokap ngiter-ngiter BIP dulu, maklum, si nyak lagi pengen belanja :P Dan gara-gara si nyak belanja jugalah gue telat nyampe foodcourt. Aaaah. Nyaaaak! *digetak pake sapu* Hoho.. awalnya ya celangak-celunguk gaje, nyari sekumpulan orang yang pake baju biru ato putih ato dua-duanya.. haha. Eh, taunya ADA! *hepi* Kalo gak ketemu kan ntar aye digeret pulang sama nyak.. Ogaaaaah. TT_TT

Dengan modal keberanian, aye samperin dah itu sekumpulan orang-orang. Dengan polosnya, gue nanya, “Ini dari Sujunesia?” sambil deg-degan gaje. Dan.. darararam.. si teteh-teteh yang lagi ngumpul itu pada ngangguk. OMONA, HAENGBOKHAEEE! *jogetgeje* Haha. Dadah enyak, jangan geret aye pulang :p LOLs. Akhirnya aye nimbrung disana, ngobrol-ngobrol singkat sambil nunggu yang laen dateng. Setelah nunggu beberapa lama, akhirnya acara pun dibuka oleh Chivie onnie, penanggung jawab gath kali ini :p

Setelah pembukaan, diadakan sesi perkenalan. Dan guess what? I’m the youngest! Omo. Lalala *stresss* Gue magnae loh, ya ampun *bangga* Yang paling tua itu Cipi onnie *dipelototin Cipi onnie*

Haha. Setelah perkenalan, kita ngobrol-ngobrol geje sambil nungguin yang belum dateng hehe. Nah kebetulan gue kan duduk di sebelah Nunu, disebelah kanan gue ada Cipi onnie yang lagi ngobrol sama Chivie onnie. Mereka berdua ngobrolin FTI, heboh berdua soal Minhwan sama Seunghyun (entahlah, gue lupa FTI sape aje). Kebetulan, Minhwan sama Seunghyun itu magnae FTI dan dua onnie kita ini nge-fans sama mereka (Chivie onnie suka Seunghyun, Cipi onnie suka Minhwan) Nah, ga tau kenapa tiba-tiba Chivie onnie bilang gini..

Chivie onnie: Jadi noona itu enak tau

Para peserta gath cengo sesaat. Kontan, para peserta berkoor dadakan (kecuali gue sama Nunu yang masih cengo gajelas): PEDOFIIIL!! Lol. Kasian Chivie onnie dan Cipi onnie. LOLS. *digetak banner*

Nah, ga tau napa gue dan Nunu yang merasa tersungging karena yang laen pada heboh ngomongin pedopil-shota-apalah itu sementara kita dicuekin (nasib Nu. Haha) Akhirnya, gue bisik-bisik ke si Nunu~

Gue: Nu, kalo Chivie onnie dan Cipi onnie suka daun muda, berarti kita selama ini suka om-om ye?

Nunu: Iya tuh Chik, kita suka om-om.

LOLS. Dan Cipi onnie yang kebeneran dengeer pun langsung meluk gue. Ahaha, ampun onnie :p

Setelah ngobrol-ngobrol geje, kita MAKAN JUGAAA <3 Alalala. Gue, Nunu, sama Dwi ngiter-ngiter cari makanan deh. Setelah ngiter bebrapa lama, kita bertiga makan burger deh. Wakakaka. Balik ke tempat ngumpul, eh yang laen udah pada dateng pesenannya, tinggal kita bertiga yang belom. Omo, lapaaaaaaaar X( Eh ternyata pas lagi ngedumel geje pesenannya dateng, jadi malu HOEHEHEHE (apaan coba?)

Setelah makan-makan, akhirnya kita berangkat ke lokasi pemotretan. Yeaaa, HI TALINTAS! XD Wakakaka, sayang pas kita kesana udah mau tutup. Siwalaaaan DX Karena itulaah kita ngunsi ke SMAN 3 Bandung. Asoy dah, HI CALON SEKOLAAAH! XD (bukannya lu mau masuk 5 bdg ntar chik?) Setelah minta izin, kita pun mulai bernarsis-narsis ria wakakakaka. Nu, anak kecil selalu eksis ye :P *nyengir bareng nunu* Kita pose macem-macem, tapi yang pasti Nunu dan gue pasti terlihat dengan jelas. HAHAHA. Kita narsis juga ya Nu *toss*

Awalnya mau difoto masing-masing (NUOOOH) Untung aja ujan, jadi batal deh *digetok Cipi onnie yang udah capek-capek ngusulin* Akhirnya kita pun mencar en kembali ke rumah masing-masing~ Hiehie…

Cipi onnie, Chivie onnie.. Makasih ya karena udah ngadain gath yang rameeee. Hoho. Meski niat aye en Nunu tidak terlaksana (baca: maling data) tapi seenggaknya jadi tau siapa aja anak sunes yang mendekam di Bandung. SAY YEA FOR MAGNAE AND SUB-MAGNAE! *senyum lebar bareng Nunu) LOLS.

Thx for reading, ppl. ^^

Chika

Permalink 3 Komentar

World Outside His Window

Agustus 15, 2009 at 9:43 am (Fanfiction) (, , , )

Title: World Outside His Window

Rating: A

Casts: Kim Ki Bum, Lee Dong Hae, Lee Sung Min, Cho Kyu Hyun.

Author: Chika

Disclaimer: I don’t own Ki Bum, Donghae, Sungmin, and Kyuhyun. They’re belong to themselves, Super Junior, and SM Entertainment. Don’t sue or blame me because writing this ficcie. I’m just a lil kid with high imagination. Lol

——————————————————————————————————————————————————————–

Ia bagaikan burung indah yang terkurung dalam sangkar

Mempesona, sama sekali tak tersentuh

Semua orang mengaguminya, termasuk aku

Namun ia selalu bersedih, terlihat sepi dibalik megahnya kungkungan yang mengurungnya

Aku ingin memperlihatkan dunia padanya, agar ia tak bersedih lagi

Karena aku benci melihat sosoknya ketika tersenyum dengan sedih

Donghae’s POV

Lagi-lagi aku melihat anak itu, terdiam di depan jendela, memandang keluar. Wajahnya cukup tampan, pipinya tembam, dan dia terlihat sangat manis. Namun entah mengapa, dia terlihat sedih, kesepian. Ingin sekali aku menemaninya disana, mengajaknya bermain, bergembira menikmati duniaku yang kecil. Tapi aku takut, segan. Tak lama, kulihat ia beranjak dari tempatnya, pergi entah kemana. Rasa kecewa menelusup hatiku, lagi-lagi aku melihat senyum sedihnya. Dengan rasa kecewa yang lagi-lagi hadir, aku menggeret kakiku menjauhi villa mewah itu, menanti esok hari atau kesempatan lain untuk menemuinya, lagi.

Aku berlari ke rumah, hari sudah sore. Aku tak mau kena marah Sungmin hyung karena terlambat pulang! Aigoo, semoga saja kakakku yang cerewet itu tidak mengurangi jatah makan malamku kali ini! Aku buru-buru mengetuk pintu kayu berwarna kuning itu, lalu dengan harap-harap cemas menunggu Sungmin hyung membuka pintu.

Kreeek…

Kudengar decitan pintu yang terbuka, semoga saja…

“Ya, Donghae-ah! Bersyukurlah kali ini kau pulang tepat waktu, kalau kau terlambat satu menit saja, aku akan menghabiskan jatahmu hari ini!” semprot Sungmin hyung begitu sosoknya terlihat olehku.

Aku hanya nyengir, lalu buru-buru masuk dan meninggalkannya yang sepertinya masih mau mengomel. Kudengar Sungmin hyung menghela nafas, lalu berjalan ke meja makan.

Setelah mencuci tangan dan berdoa, kami berdua pun memulai acara makan malam kami. Oh ya, kalau kalian bertanya-tanya kenapa aku hanya tinggal bersama Sungmin hyung, itu karena kedua orang tua kami sudah meninggal. Ya, kami yatim piatu.

“Donghae-ah…” panggil Sungmin hyung ketika aku hendak menyuapkan bibimbap kedalam mulutku.

“Ya, hyung?” tanyaku sambil meletakkan lagi sendokku ke meja.

“Sebenarnya selama seminggu ini kau pergi kemana sih? Tiap pulang sekolah kau langsung pamit pergi lagi, lalu menjelang petang kau baru kembali… Katakan padaku, Lee Donghae, jangan membuatku khawatir,” tanya Sungmin hyung dengan nada mengintimidasi.

Aku menelan ludah, haruskah aku memberitahukan hal itu padanya? Aku tak mau Sungmin hyung melarangku pergi kesana lagi jika ia mengetahui semuanya…

“Donghae, beritahukan padaku, apa pun itu,” desak Sungmin hyung.

Aku bergeming. Aku bimbang, benar-benar ragu.

“Donghae-ah…” nada suara Sungmin hyung melembut, matanya mulai berbinar-binar tak jelas seperti anak anjing. Uh, dia memelas rupanya. Hahaha, sepertinya aku akan kalah nih.

“Hyung, tolong berhenti menatapku seperti itu, kalau kau berhenti baru aku akan memberitahukan semuanya padamu, arasso?” tanyaku, menyodorkan kelingkingku kepadanya.

Dia tersenyum senang, lalu menyambut kelingkingku, “Ne,” jawabnya.

Setelah itu aku menceritakan semuanya pada Sungmin hyung-ku yang terlalu perhatian tentang anak itu. Aku mengatakan padanya kalau aku merasa heran ketika melihat anak itu, mengapa ia selalu tersenyum dengan ekspresi sedih? Mengapa ia terlihat tidak bahagia? Aku juga bilang kalau aku ingin mengajaknya bermain keluar karena setahuku anak itu belum pernah melangkahkan kakinya dari villa mewah itu. Aku menumpahkan semua yang ada dipikiranku tentang anak itu pada Sungmin hyung—termasuk soal aku takut ia melarangku menemui anak itu lagi.

Ia mengangguk, lalu tersenyum lembut.  “Donghae-ah, kenapa kau harus takut kalau aku melarangmu menemuinya? Toh menurutku niatanmu itu baik, jadi bagiku tak masalah—asal kau sudah sampai rumah sebelum jam setengah enam sore, bagaimana? Arasso?” ujarnya sambil mengenggam tanganku.

Aku mengangguk mantap. “Ne, gomawo hyung!” ucapku seraya menyunggingkan senyum ceria.

Sungmin hyung pun mengacak-acak rambutku, lalu kami berdua nonton televisi sampai larut malam. Aku merasa tenang setelah menceritakan semuanya pada Sungmin hyung. Sungguh, aku merasa sangat bahagia karena masih bisa menemui anak itu lagi. Aku akan memperlihatkan padamu hal yang disebut dunia, lihat saja, anak misterius!

Aku benci terkurung disini

Aku muak dengan semua kata-kata manis dari mulut sampah mereka

Aku mau keluar, menikmati dunia

Menggapai langit biru, menyentuh hijaunya daun…

Aku ingin berada di dunia luas, bukan di villa sempit ini!

Dan aku tak suka mendapati fakta kalau aku hanya bisa memandang dunia dari balik jendela

Kibum’s POV

Aku melihatnya, lagi. Anak laki-laki yang selalu melihat kearahku dari atas pohon itu. Awalnya ketika pertama kalinya dia naik ke pohon itu, kukira ia kehilangan layangan atau mungkin mau mengambil buah atau hal-hal yang wajar dilakukan orang kalau mau naik ke pohon. Tapi anak itu berbeda, ia hanya duduk di dahan lalu terus memandangi jendela kamarku. Awalnya aku takut, kupikir dia itu pengutit atau apa, nyatanya tidak. Ia hanya memperhatikanku dari sana, dan ketika ia melihatku, tatapan matanya terlihat… penasaran. Seakan-akan aku ini makhluk langka.

Che, aku benci caranya menatapku. Bisakah dia menatapku dengan cara normal—tak seperti orang-orang itu? Sungguh, aku tak suka dipandang dengan tatapan menyelidik serta penuh rasa ingin tahu. Membuat risih, seperti aku ini bukan manusia saja, huh.

Oh, maaf karena aku sudah seenaknya mengomel tanpa memperkenalkan diri. Namaku Kim Ki Bum, seorang anak yang harusnya duduk di kelas 6 SD sekarang ini. Hanya saja, karena menurut beberapa orang yang sungguh sangat kubenci, aku tidak sekolah sekarang. Bukannya tak punya biaya, mereka menyuruhku mengikuti home schooling karena mereka pikir aku terlalu pintar untuk duduk di sekolah biasa.

Konyol, sungguh konyol. Bodohnya, orang tuaku setuju-setuju saja. Benar-benar menyebalkan rasanya terkurung di dalam sebuah villa megah sendirian, kau tahu? Untunglah salah seorang sepupuku, Kyuhyun, sering mengunjungiku disini. Orang tuaku? Jangan tanya, mereka hanya terobsesi akan materi, bagi mereka dengan mengurungku disini adalah kebahagiaan bagi mereka. Mungkin.

Hah, maaf lagi karena malah menceritakan hal yang tak enak. Intinya, sejak hari itu ia sering datang. Mulanya memang aku takut—dan curiga. Tapi lama kelamaan tidak, ia hanya memandangiku dari sana. Tak ada hal lain yang dia lakukan. Tiap kali aku melongok ke jendela, aku menatapnya. Menatap wajah manisnya, sungguh, padahal mungkin dia lebih tua beberapa tahun dariku. Dan saat melihatnya pula aku bisa melihat dunia yang terhalang, lewat jendela. Menyedihkan bukan? Aku hanya dapat melihat keindahan dunia dari jendela. Satu lagi kenyataan yang menyakiti hatiku.

Tok tok

Aku pun tersadar dari lamunanku, beranjak dari samping jendela kearah pintu besar yang menjadi pintu kamarku. Kubuka pintu itu dengan susah payah, dan terlihatlah sosok sepupuku yang manis itu, Kyuhyun.

“Hai hyung,” sapanya datar sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum hambar lalu mempersilakannya masuk. Bisa dibilang kami cukup dekat, karena nasib kami hampir sama. Hampir, bukannya seratus persen mirip. Nasibnya jauh lebih baik daripada aku, buktinya dia masih bisa jalan-jalan dan punya teman. Sementara aku? Dikurung, dipaksa mempelajari hal-hal rumit, dan lain sebagainya. Sebagian kecil diriku membencinya karena ia terlihat jauh lebih baik daripada aku, padahal kami sebenarnya sama-sama jenius—tapi itu menurut mereka.

“Bagaimana dengan cowok itu? Masih suka memandangimu dari sana?” tanya Kyuhyun sembari mengarahkan jarinya ke pohon tempat anak itu sering muncul.

Ah. “Ya, sudah seminggu ini,” jawabku datar, mengikuti arah jari Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil, “Sepertinya cowok itu sangat tertarik padamu,” kekehnya pelan.

Aku mengangkat alisku, “Wae? Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanyaku keheranan, tumben Kyuhyun berkomentar—dengan ucapan konyol.

Kyuhyun menggeleng, “Aniyo, hanya saja dari ceritamu kelihatannya dia sangat tertarik padamu. Apa kau pernah bertemu dengan cowok ini sebelumnya?” ujar Kyuhyun sembari memainkan gorden, membuat tubuh jangkungnya tertimpa sinar matahari dan membentuk siluet halus.

Sekali lagi, aku menggeleng. Aku hanya pernah melihat wajahnya, kami tak pernah berbicara—apalagi bertemu? Err, mungkin saat aku melihatnya berada diatas pohon itu adalah pertemuan pertama kami, mungkin. Karena aku sendiri merasa familiar dengan wajahnya… hanya saja, aku lupa pernah melihatnya dimana.

Ia menghela nafas ringan lalu menarik kursi yang berada disampingnya, duduk di depanku, “Hei, hyung… Apa kau penasaran siapa cowok itu?” tanyanya langsung sambil menatapku tajam.

Aku menatapnya balik dengan dahi mengerenyit, “Maksudmu?”

“Hah~ Hyung… apa tidak mau tahu siapa anak itu? Apa hyung tidak mau berteman dengannya?”

Sesaat aku ragu. Kalau boleh jujur, ya, aku sangat penasaran pada anak itu. Hanya saja… aku merasa ada hal yang aneh tiap kali aku mengingatnya, entah apa itu. Rasanya menggelitik, membuat wajahku panas jika aku mengingat rupanya. Aish, jadi pusing. Dengan ragu-ragu, aku menganggukkan kepalaku. Kyuhyun tersenyum puas, entah apa yang ada di otak anak ini.

“Kalau begitu hyung, kenapa tidak kau sapa saja dia? Kau bilang dia selalu ada disana kan,” cerocosnya tiba-tiba seraya menunjuk pohon itu lagi, “Mungkin dengan itu kalian bisa berkenalan dan berteman,” lanjutnya cuek.

Wajahku memerah, aku… dan anak misterius itu… berteman? Mungkin kah? Ide Kyuhyun tadi bagaikan mendentangkan alarm di otakku, membayangkan beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi, jika aku dan dia dapat berteman. Menarik, tapi aku merasa malu…

“Hyung! Bagaimana?” tanya bocah itu tak sabaran.

“Ide menarik, mungkin aku akan mencobanya…” desahku sambil mengulaskan senyum untuk sepupuku yang pintar itu.

Dia hanya menyeringai lalu buru-buru pamit karena sudah ditunggu orang tuanya. Aku pun kembali tenggelam dalam lamunan, terbawa arus pikiran. Satu lagi fakta yang menyakitkan baru kusadari, aku sendirian… Sepi, tak ada teman berbagi, hanya satu diantara besarnya kungkungan ini. Aku bagaikan terasing dari hiruk pikuk dan ramainya dunia, terkurung dalam tembok tebal, sendirian. Rasanya hatiku sakit, sakit sekali sampai-sampai aku menangis. Menangisi kesendirianku, meratapi rasa sepi yang baru kusadari setelah Kyuhyun pergi. Babo ya… kenapa aku baru sadar?

Normal POV

Terlihat sesosok pemuda yang sedang berlari dengan seragam SMP dari kejauhan, nafasnya memburu, terengah-engah. Pemuda itu menengok ke kanan-kiri, lalu bergegas naik ke sebuah pohon besar yang berada disamping sebuah villa megah. Dengan cukup mudah, pemuda itu sudah ada diatas dahan yang terletak cukup dekat dengan jendela berbalkon dari villa itu. Pemuda itu duduk di dahan, bersandar pada batang pohon, menunggu kehadiran seseorang yang akan melihat keluar dari jendela itu. Si pemuda akan mengajak anak itu keluar dari kamarnya, apa pun yang terjadi. Ia merasa keberaniannya sudah cukup banyak untuk berbicara dengan anak manis yang sama sekali tidak ia kenal itu. Tekadnya sudah bulat.

Kriet…

Terdengar bunyi jendela terbuka dan tampaklah sosok seorang anak lelaki dengan piyama berdiri di depan jendela itu. Tatapan matanya tajam, menatap si pemuda yang sedang duduk di dahan itu. Tak lama, tatapan tajam itu hilang, berganti menjadi menerawang. Bocah kecil itu memandangi dunia dengan tatapan sedih, lagi.

Setelah beberapa lama, mereka bertahan dalam hening, menolak keinginan sanubari masing-masing untuk saling menyapa dan berbagi kisah. Mereka bergeming karena segan, takut, dan malu. Sunyi menghiasi mereka, membuat si pemuda merasa jengah. Dengan seluruh keberanian yang ia punyai, dengan sepenuh hati ia menyapa si anak misterius itu.

“Annyeonghasseo,” sapa si pemuda pelan dengan malu-malu.

Si bocah kecil terlonjak kaget, memandang si pemuda dengan tatapan yang tak dapat didefinisikan. Meski begitu, ia tetap membalas sapaan si pemuda itu dengan senyuman. “Annyeonghasseo, hyung,”

Kali ini giliran si pemuda yang kaget. “Hei, mengapa kau memanggilku dengan hyung? Siapa tahu kita seumuran kan?” tanya si pemuda keheranan.

Bocah itu tersenyum datar, “Kau menggunakan seragam SMP, jadi pasti kau anak SMP kan? Aku sekarang ini harusnya kelas 6 SD kok,” jelasnya singkat.

Pemuda itu menatap si bocah dengan kagum. “Haha, kau anak yang menarik ya! Omong-omong, siapa namamu?”

Si bocah terdiam sejenak, “Hyung dulu,” putusnya.

“Baiklah, naneun Lee Donghae imnida. Manasso bangapseumnida!” jawab si pemuda yang bernama Lee Donghae itu dengan ceria, “Nah, sekarang giliranmu!” lanjutnya sambil menunjuk anak itu jenaka.

“Naneun Kim Ki Bum imnida, manasso bangapseumnida,” jawab anak yang bernama Ki Bum itu datar.

Donghae tersenyum, “Hei, apa kau pernah keluar dari sini?” tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling villa.

Ki Bum menggeleng pelan.

“Sama sekali tak pernah keluar?” tanya Donghae lagi.

Kali ini Ki Bum mengangguk.

Donghae terdiam sejenak, “Kau dikurung?” tanyanya penasaran.

Ki Bum tersenyum pahit, “Bisa dikatakan begitu, haha” jawabnya getir.

“Mianhaeyo, tapi boleh aku tahu siapa yang mengurungmu disini?” tanya Donghae sambil menatap Ki Bum dalam-dalam, berusaha mencari kebohongan dalam tatapan mata sedih itu, namun ia tak berhasil.

“Umma dan appa,” balas Ki Bum datar.

Donghae tertegun. Sungguh ia tak habis pikir, ada juga orang tua yang setega ini pada anaknya sendiri? Seharusnya orang tua Ki Bum tak perlu mengurung bocah malang itu, bagaimanapun juga, Ki Bum hanya seorang anak yang suci, tak berdosa. Ia langsung jatuh kasihan pada bocah manis ini.

“Ki Bum…” panggil Donghae pelan.

“Hn?” balas Ki Bum, terlihat sedikit ceria.

“Apa kau mau kalau kuajak jalan-jalan sebentar? Melihat dunia secara langsung?” ajak Donghae to the point.

Ki Bum memandang Donghae dengan tatapan tak percaya, “Jangan bercanda, kita baru saling mengenal,” ujarnya seraya menghela nafas. Padahal sebenarnya dalam hatinya ia sudah berteriak kesenangan dan mengatakan ya keras-keras, hanya saja ia malu.

“Tentu saja aku serius, kalau tidak, untuk apa setiap hari aku datang kesini, Bummie?” tanya Donghae, mengulurkan tangannya pada Ki Bum.

Ki Bum tercengang sesaat, ‘Pemuda ini sebenarnya nekat atau baik sih?’ pikir Ki Bum dalam hati. Namun akhirnya ia anggukan juga kepalanya, meraih uluran tangan Donghae dan melompati jendela kamarnya. Kali ini ia berada di dunia, merasakan desiran angin menggelitik tubuhnya, mencium bau segar dari dedaunan hijau yang berada diatas kepalanya, merasakan hangatnya pelukan Donghae… Ups, wajah Ki Bum memerah lagi. Ya, Donghae membawanya turun dengan menggendongnya, karena ia yakin Donghae tahu kalau ia tak pernah naik-turun pohon sebelumnya.

“Bagaimana Ki Bum? Ini yang namanya dunia,” ujar Donghae puas sambil menunjuk sekeliling mereka.

Burung-burung yang masih semangat berkicau, pepohonan rimbun yang bergerak mengikuti irama angin, angin sepoi-sepoi yang membuat perasaan menjadi tenang, beberapa hewan kecil yang bermain dengan gembira… Ini kali pertama Ki Bum melihat apa yang ada diluar jendela kamarnya secara utuh dan jelas. Ia terpukau, menikmati semua hal yang hilang darinya saat ini. Saking terharunya ia, tak terasa sebutir air mata jatuh dari matanya.

Donghae tersenyum, “Ini masih belum ada apa-apanya, jangan menangis dulu! Ayo, akan kutunjukkan tempat rahasiaku!” ajak Donghae lagi sambil menarik lengan Ki Bum lembut. Ki Bum sendiri pasrah saja ditarik-tarik begitu.

Mereka berdua berlarian menuruni bukit, tertawa-tawa menikmati sinar mentari yang bersinar redup, terhalang awan-awan putih yang melindungi mereka dari sengatan sinar ultra violet itu. Ini pertama kalinya Ki Bum merasa bebas, benar-benar bebas. Ia pikir ia takkan pernah bisa keluar dari sana—villa itu. Tapi nyatanya ia bisa, sekarang ia menikmati dunia dengan seseorang yang sangat baik di matanya. Pemuda baik dan nekat yang bernama Lee Donghae itulah yang mengeluarkannya dari dalam kurungan, memperlihatkan keindahan dunia luar padanya.

“Bummie~ Lihat, lihat! Kita sudah sampai!” teriak Donghae menyadarkan Ki Bum dari lamunannya.

“Ya, hyung? Wa…” ucapan Ki Bum terputus, ia terpesona oleh sesuatu yang ada didepan matanya saat ini.

Sebuah padang bunga dandelion yang cukup luas.

Ki Bum menjerit senang sementara Donghae tersenyum lebar. Mereka berdua lalu berlari ke padang dandelion itu, membuah beberapa bunga rusak. Mereka juga memetik beberapa batang dandelion lalu meniupkannya ke angkasa, membuat langit menjadi penuh bibit-bibit dandelion yang berterbangan. Mereka bermain, tertawa, bergembira di padang dandelion itu berdua saja. Setelah lelah bermain-main, mereka pun menidurkan diri di padang itu.

“Aish… Ini pertama kalinya aku tertawa selepas ini…” gerutu Ki Bum sambil memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.

“Hah, tapi kau senang kan?” goda Donghae, berusaha mengatur nafas.

Wajah Ki Bum memerah, tapi dia mengangguk juga. Donghae membalas anggukan Ki Bum dengan senyuman manis.

“Hyung, khamshahamnida… Terimakasih karena sudah begitu baik padaku,” ujar Ki Bum sambil tersenyum manis pada Donghae.

“Sama-sama, Bummie,” jawab Donghae seraya mengacak-acak rambut Ki Bum.

Mereka berdua pun terdiam dalam keheningan yang menenangkan jiwa.

“Hyung… bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?” panggil Ki Bum pada Donghae yang sedang membersihkan bajunya.

“Ya? Wae?” sahut Donghae sambil menengok ke arah Ki Bum.

“Kenapa hyung begitu baik padaku? Padahal kita kan tidak saling kenal…” tanya Ki Bum, menundukkan kepalanya dan menaikkan sedikit kacamata yang bertengger di hidungnya, membuat ia terlihat sangat manis.

Donghae tersenyum tipis, “Karena kau terlihat kesepian, karena kau menarik perhatianku begitu aku melihatmu, dan… karena kau adalah kau,” jawab Donghae yakin lalu kembali mengacak-acak rambut Ki Bum. “Sebenarnya ada banyak sekali alasan, hanya saja tiga alasan tadi adalah alasan terkuatku,” lanjutnya santai seraya mendongak kearah langit yang mulai berubah menjadi jingga.

Lagi-lagi Ki Bum hampir menangis. Ternyata ada juga orang yang sebaik Donghae di dunia ini, dia kira hampir semua orang seperti orang tuanya serta kroni-kroni mereka.

“Ya, sudah sore! Ayo pulang, kuantar sampai rumah,” ajak Donghae sambil mengulurkan tangannya pada Ki Bum yang sedang duduk.

Ki Bum meraih tangan Donghae, mengulas sebuah senyum, lalu kembali berlari menyusuri jalan menanjak ke atas bukit untuk kembali ke villa. Dengan mengendap-endap, mereka naik keatas pohon lalu Ki Bum melompat masuk kedalam kamarnya lewat jendela yang terbuka. Sebenarnya mereka berdua berat kalau hari ini harus berakhir, hanya sajaa, setiap awal pasti ada akhir, jadi mereka memilih untuk mengakhiri hari ini dengan senyuman. Mereka berdua menyunggingkan seulas senyuman hangat satu sama lain sebelum benar-benar berpisah.

“Bummie..” panggil Donghae sebelum ia turun dari pohon.

“Ya, hyung?” sahut Ki Bum dari dalam kamar.

“Besok ketemu lagi mau?” tanya Donghae ceria.

“Mau! Mau sekali, hyung! Seperti biasa kan?” jawab Ki Bum bersemangat, dalam binar matanya ia terlihat sangat senang.

“Ya.. tunggu aku besok ya! Annyeong, Bummie,” ucap Donghae mengakhiri percakapan mereka, lalu turun dari pohon dan berlari pulang ke rumahnya.

“Annyeong, Donghae hyung,” balas Ki Bum setelah sosok Donghae tak tertangkap oleh matanya. Dan ia pun lalu menutup dan mengunci jendelanya rapat-rapat.

———————————————————————————————————————————————————————

Kalau kau terkurung, kau pasti bisa keluar. Kalau kau mau berusaha, kau pasti bisa. Ada kalanya kita merasa hidup itu menyiksa, namun bagi orang lain hidup juga bisa membahagiakan. Lihatlah kearah dunia yang berada diluar jendelamu, jangan terus menerus memandang dunia dalam satu sisi. Dunia itu luas, tak hanya satu sisi tempat kita berada sekarang. Dunia tak mengenal hitam dan putih karena dunia adalah daerah abu-abu.

Lihatlah keindahan dunia, dan bersyukurlah karena kita masih diizinkan untuk melihatnya.

———————————————————————————————————————————————————————

-FIN-

———————————————————————————————————————————————————————

Author’s Note: Fyuh. My first fic :D Haha. Dibuat saat lagi gila sama KiHaeeeeee. I love them so much <3 Haha. Sebenernya ga tega juga sih liat Kibum diginiin.. Tapi mau gimana lagi? Terlanjur cinta sama KiHae, dan cuma plot ini yang pas buat KiHae menurut aku. Haha. Oh iya, bakal ada sekuelnya. Tunggu tanggal 21 Agustus–Ki Bum birthday =D

Thanks for reading.

Chika

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hi All :)

Agustus 15, 2009 at 6:33 am (Uncategorized) (, )

Hi all. Like the title, I want to introduce my self  :)

My name is Citra, but you can call me Chika or  Rae. I’m just a little girl who love South Korean and Japan so much. Why I love South Korean? Don’t prove me wrong, because I love Dong Bang Shin Ki so damn much <3 But actually my Korean first love is Rain. Haha. Talkin bout the boybands, beside Dong Bang Shin Ki, I like Big Bang, SHINee, Super Junior, and 2PM too. Actually I don’t like girlbands, but now, I think I’m gonna fall for 2NE1 and Wonder Girls. LOLS.

I lived in Bandung–actually Cimahi. So I’m sundanese and Indonesian people. And I proud of it!!1 LOLss.

In this blog, I’ll post some fanfiction and orific made by myself. Hope you’ll like that anyway. Haha. Um yeah, btw.. I think I’ll post it later. Hihi. Sorry XD

Thanks for the attention :D

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.